PAKET NATAL 2014

Jumat, 27 Agustus 2010

KESETIAAN BERIBADAH

Ayat Pokok:

Oleh : Petrus F. Setiadarma

Pendahuluan

Kata “kesetiaan” telah menjadi barang langka pada masa kini. Banyak kasus terjadi di mana suami atau isteri tidak setia lagi pada pasangannya yang ditunjukkan dengan melakukan penyelewengan atau perselingkuhan. Karyawan yang telah dibina selama ini kemudian tidak loyal atau setia lagi kepada perusahaan yang telah membesarkannya. Dengan pelbagai alasan yang masuk akal ia hengkang ke perusahaan lain yang dipandangnya bisa memberikan nilai lebih guna mencukupi kebutuhannya. Yang lain lagi ada orang Kristen yang tidak setia lagi beribadah di gereja lokal yang selama ini telah melayaninya. Karena satu dan lain hal ia pindah ke gereja lokal yang lain dengan alasan karena kekecewaan atau – agar nampak lebih rohani – “disuruh Tuhan”. Namun itu semua belum seberapa dibandingkan dengan orang yang tidak setia lagi kepada Tuhan Yesus Kristus yang ditunjukkan dengan ketidaksetiaan dalam beribadah. Dalam artikel ini kita akan mendalami lagi arti ibadah menurut Alkitab dan mengapa kita harus setia beribadah. 2. Arti Ibadah Mari kita melihat arti kamus (etimologi) dari kata “ibadah” ini. Dalam Perjanjian Lama, kata “beribadah” merupakan terjemahan dari kata dalam bahasa Inggris “to serve” yang artinya “melayani” atau “beribadah” (Yos. 24:15). Dalam bahasa Ibrani digunakan kata “abed” (dboå[]) yang berarti “bekerja seperti seorang budak”, atau “mengabdi kepada seorang raja”, atau “melayani dalam fungsi keimaman”. Sedangkan dalam Perjanjian Baru digunakan kata dalam bahasa Inggris “to worship” yang artinya “menyembah” (Mat. 15:9 – Yun. “sebô” (sebw) yang berarti “menyembah”. Kata ini merupakan istilah teknis yang dihubungkan dengan bangsa kafir yang menerima kepercayaan Yahudi kepada satu Allah (monoteis), dan beribadah di sinagoge, tetapi tidak menjadi proselit Yahudi dengan menyunatkan diri). Kata bahasa Ingris lainnya adalah “godliness” yang artinya “berpusat kepada Allah” (1 Tim. 6:6 – Yun. “eusebeia” (eusebeia) yang artinya “hidup yang takut akan Allah dan melakukan kewajiban religius kepada-Nya). Dari arti kamus di atas, maka “ibadah” dalam pengertian iman Kristiani bisa berarti: * Kegiatan ritual keagamaan di mana seseorang menyembah Allah, Khalik langit dan bumi di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, baik secara pribadi maupun secara berjemaat dalam perkumpulan raya atau kelompok. Dalam ibadah ini ada liturgi yang memuat pujian dan penyembahan, pemberitaan firman Tuhan, kesaksian, doa-doa syafaat, dan persembahan. Doa dan puasa juga merupakan bagian dari ibadah semacam ini. * Kegiatan pelayanan bagi Tuhan di mana seseorang secara sadar mau melayani Allah sebagai hamba atau pelayan-Nya, karena ia telah ditebus dengan darah Yesus Kristus. Roh Kudus telah memberikan talenta kepada setiap orang percaya untuk dikobarkan bagi pembangunan Tubuh Kristus dan bagi kemuliaan-Nya. Termasuk dalam ibadah ini juga adalah keterlibatan dalam masyarakat seperti peduli lingkungan, dalam marketplace atau dunia kerja, dan sebagainya. * Kehidupan dalam kesalehan yang dinyatakan dengan sikap dan perbuatan baik secara etis dan moral bagi sesama, seperti kebenaran dan kejujuran, serta menyatakan kasih Kristus dengan memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan. Ketiga aspek dalam ibadah ini harus seimbang dalam kehidupan kita. Penekanan hanya pada satu atau dua aspek saja mendatangkan teguran dari Tuhan. Misalnya, pada zaman nabi Yesaya umat Tuhan beribadah kepada-Nya dengan berpuasa dan mengadakan hari yang berkenan kepada-Nya, namun mereka tidak mempedulikan mereka yang tertindas dan terbelenggu, serta para fakir miskin. Tuhan menegur mereka dengan keras, agar mereka menaruh kepedulian sosial (Yesaya 58:5-7). 3. Mengapa Harus Setia Beribadah? Ada beberapa alasan mengapa setiap orang Kristen harus setia beribadah kepada Allah yang hidup di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Istilah “beribadah” dalam bagian ini lebih kepada bentuk ibadah yang pertama, yaitu dalam bentuk persekutuan dengan orang-orang percaya dalam ibadah raya atau persekutuan kelompok. Pertama, karena itu adalah kehendak Allah. Allah yang lebih dahulu setia kepada kita menghendaki agar kita setia kepada-Nya. Orang yang setia berkenan kepada-Nya (Amsal 12:22). Kedua, orang tersebut akan mengalami kesetiaan Allah lebih mendalam lagi, karena Allah setia kepada orang yang setia kepada-Nya. Jadi Allah lebih dulu setia kepada kita, kemudian kita juga setia kepada-Nya, maka Ia akan lebih lagi menyatakan kesetiaan-Nya (Mazmur 18:26). Ketiga, kesetiaan sampai mati menghasilkan upah yang kekal, yaitu mahkota kehidupan (Wahyu 2:10). Jemaat Smirna saat itu harus menghadapi tantangan. Banyak di antara merek amenjadi syuhada (martyrs) karena kesetiaan mereka beribadah kepada Tuhan. Orang yang setia beribadah mengalami banyak penderitaan (2 Tim. 3:12). Saat ini pun banyak tantangan dalam mempertahankan kesetiaan kita. Namun jika kita tetap setia, upah yang kekal telah tersedia. Keempat, ibadah yang dilakukan dengan setia dan hati yang penuh pengucapan syukur besar manfaat atau faedah bahkan keuntungannya (1 Tim. 6:6). Kelima, kesetiaan beribadah membuat sikap sosial kita dibangun dengan baik. Dalam sebuah persekutuan pelbagai macam orang datang menghadirinya. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda-beda. Di situ kita sadar bahwa jika kita sedang dalam masalah, sebenarnya banyak orang memiliki masalah yang lebih berat dari kita. Sebaliknya, ketika kita dalam keadaan kelimpahan, kita diajar untuk membagikan sebagain ebrkat itu kepada mereka yang membutuhkan. Dalam ibadah ada take and give: pertama antara kita dengan Tuhan, dan yang kedua antara kita dengan saudara seiman. 4. Tips Praktis Untuk bisa setia beribadah, berikut ini diberikan tips sederhana. Dengan pertolongan Roh Kudus, niscaya kita akan mampu melakukannya. (a) Karena kesetiaan membutuhkan tekad yang kuat, maka disiplin beribadah harus ditaati. Hari apa dan jam berapa harus sudah diagendakan terlebih dahulu. (b) Mempersiapkan diri beberapa hari sebelumnya untuk hari ibadah. Misalnya pada hari Jumat dan Sabtu sudah mempersiapkan diri dengan membaca buku-buku rohani, berdoa dengan lebih sungguh-sungguh. (c) Satu jam sebelum jam ibadah sudah berkemas-kemas. Biasakan untuk tidak datang terlambat dalam ibadah, karena akan mengganggu kekhidmatan suasana ibadah, dan juga meninggalkan teladan yang buruk buat anak-anak dan generasi muda lainnya. (d) Membawa Alkitab (dalam bentuk cetakan atau elektronik), buku catatan, pena.dan kebutuhan lainnya, sehingga firman Tuhan yang disampaikan dapat dicatat dan kemudian diperdalam lagi. (e) Mengikuti semua mata acara liturgi ibadah dengan penuh kesungguhan hati. Hindari berbicara satu sama lain. Jauh lebih baik jika ketika kita datang, kita langsung berdoa. (f) Mematikan handphone saat beribadah, agar kita dapat lebih berkonsentrasi. Sesudah ibadah nomor yang tersimpan dapat dihubungi kembali. Ada orang yang kuatir jika panggilan telepon seseorang tidak segera direspons, maka peluang bisnis akan hilang tanpa bisa kembali. Jika Tuhan memberkati kita, kita tidak akan kehilangan momen memperoleh berkat tersebut. Ia tetap sanggup memberkati kita dengan cara-Nya dan waktu-Nya yang indah. (g) Mengajak orang lain untuk ikut beribadah membuat kita lebih bergairah beribadah. (h) Jika ada khotbah yang menjadi berkat secara khusus dapat dipesan kaset atau CD rekamannya, sehingga bisa didengarkan kembali atau dipinjamkan/diberikan kepada orang lain yang membutuhkan. 5. Penutup Kita sedang berpacu dengan waktu. Orang-orang berkata bahwa waktu itu uang (Time is Money), sehingga mereka bahkan membuang waktu yang amat berharga untuk beribadah kepada Tuhan dengan terus memburu harta. Banyak orang telah menjadi budak dari hartanya. Tidak demikian halnya dengan kita. Tuhan telah menyediakan cukup bahkan banyak waktu untuk kita bekerja dan melakukan pelbagai aktivitas lainnya. Sangatlah adil jika kita juga menghargai hari Sabat Tuhan, atau satu hari perhentian di mana kita dapat beribadah kepada-Nya, mengucap syukur atas segala berkat yang telah dilimpahkan-nya bagi kita. Kita tidak akan kehilangan waktu yang berharga, karena Tuhan tidak pernah berhutang. Orang yang sungguh-sungguh mencari Dia dengan iman, akan menerima upah kesetiaan-Nya yang luar biasa!

BERSERU KEPADA TUHAN

Ayat Pokok: Mazmur 142:1-7 Mazmur ini dinyanyikan, di tulis oleh Daud di sebuah gua. Ada dua Mazmur yang di tulis di dalam gua, yaitu Mazmur 3 dan Mazmur 142 , ada satu lagi Mazmur 57. Di dalam Mazmur 3, Daud di kejar-kejar oleh anaknya sendiri. Di dalam Mazmur 142 ini ketika Daud di kejar oleh Saul. Kehidupan dari Daud itu sangat beraneka ragam. Dia pernah senang, dia pernah susah, dia pernah dikejar, dia pernah mendapat kemuliaan, dia diolok, dia dihina, macam-macam, tidak jauh berbeda dengan pengalaman hidup kita Ayat ke 2, Dengan nyaring aku berseru-seru kepada TUHAN, dengan nyaring aku memohon kepada TUHAN. I CRY out to the LORD with my voice; With my voice to the LORD I make my supplication. Bahasa Inggris, aku berteriak kepada Tuhan. Saudara, adakalanya kita sembahyang di dalam hati. Ada kalanya kita berdoa seperti berbisik. Ada kalanya kita berdoa untuk orang. Tetapi ini doa pribadi. Di dalam kesulitan yang sangat dahsyat dan kesulitan yang tersembunyi, dia berseru berteriak kepada Tuhan. Saudara-saudara, saya tidak memaksa, tetapi silakan saudara-saudara berseru kepada Tuhan. Kami ajar kepada jemaat kami di Cianjur, untuk berteriak untuk berseru kepada Tuhan. YESUS TOLONG!!! TUHAN TOLONG!!! Dengan suara yang keras, seperti saudara tadi menyanyi, itu adalah ungkapan kita, berseru kepada Tuhan. Daud berseru kepada Tuhan dengan suaranya, aku meminta. Apa Tuhan tuli, sampai kita berseru? Saya teringat satu pribadi dalam Perjanjian Baru, yang berseru kepada Yesus, yaitu Bartimeus. Ketika dia berkata, "Yesus anak Daud, kasihinilah hamba!" Yesus tidak peduli, Dia jalan terus. Tetapi murid-murid Yesus yang berkata kepada dia, "Jangan ribut, jangan ribut. Jangan ganggu Dia." Tapi dia tambah keras berseru, "Yesus kasihanilah aku!!!". Baru Yesus berhenti, dan Dia menjawab apa yang diminta oleh Bartimeus. Nampaknya Yesus juga menunggu, apa kita sungguh-sungguh berdoa kepada Dia? Saya yakin saudara, orang tidak akan berseru, kalau dia tidak sangat memerlukan pertolongan. Dia akan berseru dengan segenap HATI, dia akan berseru dengan segenap suara, TOLONG!!! Saya tidak suruh, tapi kalau saudara mau prakterk, ambil waktu, di kamar saudara, tutup pintu, saudara berseru kepada Tuhan, "YESUS TOLONG SAYA! TUHAN YESUS TOLONG SAYA!!!" Dan ini dikatakan berkali-kali, aku berseru, dengan suaraku aku berseru! Aku berseru kepada Tuhan. Saudara-saudara mau berseru kepada Tuhan? Tuhan nggak tuli, tapi Tuhan juga nggak gugup, kalau saudara berteriak kepada Dia. Berserulah kepada Tuhan! Saudara-saudara, ini nomor teleponnya Tuhan, 22335015818. Tapi jangan pakai handphone saudara, nggak akan sampai-sampai. Yunus 2:2, Yeremia 33:3, Mazmur 50:15, dan Mazmur 81 ayat 8, sama bunyinya, BERSERULAH KEPADA-KU PADA MASA KEPICIKAN, AKU AKAN MENJAWAB ENGKAU! Haleluyah! Berseru kepada Tuhan. Ayat ke 3; Aku mencurahkan keluhanku ke hadapan-Nya, kesesakanku kuberitahukan ke hadapan-Nya. Aku mencurahkan, ini betul, I pour out my complaint before Him. Kesesakanku kuberitahukan, kata kuberitahukan dalam bahasa Inggris dipakai kata declare. Ayat ke 6; Aku berseru-seru kepada-Mu, ya TUHAN, kataku: "Engkaulah tempat perlindunganku, bagianku di negeri orang-orang hidup!" I cried out to You, O LORD: I said, "You are my refuge, My portion in the land of the living. Kata bagianku, di salin my portion, porsiku. Saudara tahu, saudara punya porsi? Saudara tahu nggak, porsi saudara nggak akan ketukar dengan porsi orang. Rejeki saudara tidak akan tertukar dengan orang lain. Itu rejeki untuk saudara. Semua orang sudah ditentukan rejekinya oleh Tuhan, jadi kita tidak boleh iri dan kita tidak boleh sombong. Kita tidak boleh sombong kepada yang kecil rejekinya, kita tidak boleh iri kepada yang besar rejekinya. Dia dikasih besar rejekinya, karena Tuhan bilang, dia mampu dan Aku percaya dia. Kita dikasih rejeki pas, karena sudah keadaan kita. Orang sedikit rejekinya, karena Tuhan bilang, dia tidak mampu kalau dikasih rejeki besar. Tetapi Daud bilang, You are my portion. Tuhan porsi saya. Tadi saya sudah bilang, Tuhan yang kasih rejeki. Orang dikasih rejeki besar, rejeki sedang, rejeki kecil. Sekarang Daud bilang, Tuhan rejeki saya. Kalau Tuhan rejeki saudara, saudara nggak bisa bilang, rejeki saya kecil, rejeki saya sedang, rejeki saya besar, nggak bisa. Kalau Tuhan menjadi rejeki kita, nggak usah dah, udah lebih dari segala-galanya. Tuhan rejekiku. Ini dalam percobaan lho! Dia bilang, You are my portion, O LORD. Dan dia nggak lompat-lompat. Berteriak! Tuhan Engkau rejeki saya! Di gereja nyanyi aja, aduh... susah amat. Daud dalam percobaan, dia berseru; Oh Tuhan Engkaulah rejekiku. Aku berseru kepada-Mu, Engkaulah tempat perlindunganku. You are my refuge, bagianku di negeri orang hidup. Engkaulah rejekiku di negeri orang hidup. Aku tidak ada hubungan dengan orang-orang mati. Yesus adalah tempat perlindunganku. Hafal!? Yesus adalah gunung batuku. Yesus adalah perisaiku yang teguh. Yesus adalah tempat aku berteduh. Hafal!? Ku tak takut bahaya, kar'na Yesus menjaga. Gada dan tongkat-Nya, s'lalu menghiburku. Hei ! Nah itu yang kurang, ada hei nya. Untuk mengingatkan kita, ada amin, saudara? Dia perlindungan kita. Tapi jangan lupa, Tuhan Engkaulah porsi saya. Nggak bisa dikutik-kutik, nggak bisa digarong, nggak bisa! Itu sudah, Tuhan jadi porsi saya. Itu imannya Daud, seperti itu, luar biasa. Berikutnya, perhatikanlah teriakku, sebab aku telah menjadi sangat lemah. Lepaskanlah aku dari pada orang-orang yang mengejar aku, sebab mereka terlalu kuat bagiku. Lepaskanlah, perhatikan teriakku, attend to my cry, for I am brought very low; Deliver me from my persecutors, for they are stronger than I. Adakalanya kita menghadapi problem yang kelihatannya lebih besar dari kita. Tuhan janji tidak akan memberikan percobaan lebih dari kekuatan kita. Tetapi, baik Daud maupun Paulus, pernah berkata, kami mendapatkan problem yang melebihi kekuatan kami. Daud berkata, ada musuh yang lebih kuat dari padaku. Dia yang pernah mengalahkan Goliath, sekarang gemetar ketakutan, karena dia menilai ada musuh yang lebih kuat dari pada dia. Saudara, kita bisa menang di dalam satu peperangan, dan kita bisa takut dalam peperangan yang lain. Kalau saudara pegang Mazmur 142, dan membuka 2 Korintus pasal 1, di sana kita membaca kesaksian dari Rasul Paulus ayatnya ke 8; Salinan Inggris, itu beban melebihi kekuatan kami. Sudah putus asa. Saudara-saudara, Rasul Paulus pernah putus asa. Itu sebabnya dia bilang, ketika aku lemah, di situ aku kuat. Ketika aku putus asa, datanglah pertolongan Tuhan. Sama, kita kembali kepada Mazmur 142, ada musuh yang lebih besar dari padaku, yang lebih kuat sebab aku telah menjadi sangat lemah. Lepaskanlah aku dari pada orang yang mengejar aku, sebab mereka terlalu kuat bagiku. Kemenangannya justru dalam ayat ke 8; keluarkanlah aku dari dalam penjara. Bring my soul out of prison. Untuk memuji nama-Mu orang-orang benar akan mengelilingi aku, apabila Engkau berbuat baik kepadaku. Di dalam ayatnya ke 8 ini, dia bilang, keluarkan jiwaku, dalam bahasa Inggirs, dari pada penjara, sebab aku mau memuji nama-Mu. Saya mau beritahu, penjara itu adalah diri kita sendiri. Roh kita ingin memuji Tuhan, tapi ada penjara. Penjaranya itu ke-akuan kita. Kita malu nyanyi keras-keras. Kita malu menari untuk Tuhan. Kita malu, 'kan kita ini orang berpendidikan? Lulusan universitas Amerika. Masak kita nyanyi seperti ini? Tanpa sadar, badan kita, kedudukan kita, nama kita, jadi penjara roh kita untuk memuji Dia. Saya kalau sembahyang bedston di Cianjur, saya kadang-kadang tengkurap di hadapan Tuhan. Saya harus mengalahkan penjara diri saya sendiri. Saya harus mengalahkan ke-akuan saya. Kadang-kadang kita menyanyi seperti orang terhormat. Orang nggak perlu begitu. Tuhan cari orang yang membebaskan diri. Dia bebas dari penjara diri sendiri, dan dia menyembah kepada Tuhan. Saudara mau memuji Tuhan? Kita tanya sekarang, apa yang dinyanyikan Daud? Saudara tahu nggak? Saya tahu apa yang dinyanyikan dia. Kita lihat di dalam Mazmur 57, kita membaca apa yang dinyanyikan oleh Daud. Mazmur 57, tiga ayat terakhir, ayat 10 sampai ayat 12; Sebelum kita ke ayat 10, kita baca ayat 1 dulu, Jadi apa yang ditulis dalam Mazmur 142, ini lagunya yang dia tulis. Nah, kita lihat ayat 10 sekarang; Be exalted, O God, above the heavens; let Your glory be above all the earth. Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit. Sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit. Dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan. Saudara pernah dengar lagunya? Ketika dia di gua, saudara bisa bayangkan nggak? Gua, dengan enam ratus tentara, lari dia dari Saul. Tentara Saul lebih kuat. Saudara bisa bayangkan nggak, Daud mulai menyanyi, memuji Tuhan. Aku mau bersyukur kepada Tuhan. Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit. Kita pakai yang Indonesia saja. Tinggikan diri-Mu, mengatasi langit. Tinggikan diri-Mu...karena di dalam gua, ngomong sedikit saja, kedengaran. Itu enam ratus tentara yang setia kepada Daud, lagi mungkin lagi berteduh, dengar nyanyian...tinggikan diri-Mu...lalu satu orang ikut. Tinggikan diri-Mu Yahwe..tinggikan...dua, tiga , empat, akhirnya enam ratus orang ikut nyanyi di dalam gua. Suaranya bersiponga, echo. Menyembah memujui kepada Tuhan, justru ketika sedang dikejar musuh! Maka, nyanyian yang paling berharga di hadapan Tuhan itu, ketika saudara sedang susah, tetapi saudara tetap menyanyi memuji Tuhan. Ketika saudara sedang sakit, sedang putus asa, tapi saudara bisa menyanyi memuji kepada Tuhan, itu lagu sangat mahal sangat berharga di mata Tuhan. Saudara-saudara, pengalaman kekristenan, bukanlah pengalaman yang hanya indah saja. Tapi indahnya pengalaman Kristen itu, ketika kita ada di dalam jurang, ketika kita terkekang, ketika kita tersendiri, ketika problem menekan kita, ketika musuh lebih kuat dari pada kita, ketika kita melihat diri sendiri karena tidak ada yang memperhatikan kita, justru kita menyanyi kepada Tuhan. Dan sekarang yang sedang dicari oleh orang-orang, adalah pemimpin -pemimpin, yang seperti ini. Enam ratus tentara berani mati untuk Daud, karena mereka lihat, Daud memuji Tuhan, sedang di dalam gua. Siapa malam hari ini ada di dalam gua? Siapa malam hari ini sedang mengalami gua? Gua yang gelap, tidak boleh pasang api, ketahuan oleh musuh. Tetapi ada nyanyian Tuhan. Ada penyembahan. Nyanyi terus bagi Tuhan. Mari kita berdiri bersama-sama. Haleluyah.

HANYA TUHAN PERLINDUNGAN KITA

Ayat Pokok: Mazm 142:1-7

PENDAHULUAN

Ada beberapa kali Daud menghadapi bahaya dikejar-kejar oleh musuh yang hendak membunuhnya. Kadang, ia putus asa karena sepertinya ia sendirian dan tidak ada orang yang peduli padanya. Namun, justru di saat-saat Daud merasa sendirian, imannya pada Tuhan bertumbuh. Daud meyakini Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya, dan bahkan pada saat yang tepat pasti menyatakan pertolongan-Nya yang tidak pernah terlambat.

Kita, umat Tuhan masa kini pun harus meyakini bahwa Tuhan tidak berubah dalam mengasihi dan melindungi umat-Nya dari upaya musuh menghancurkan hidup dan iman kita. Sekalipun kita merasa sendirian, ingat ada Tuhan yang berdaulat dan peduli. Ingat juga, ada banyak anak Tuhan yang tetap memelihara hati yang dekat dengan Tuhan sehingga mereka peka dan peduli serta mendoakan kita

RINGKASAN

Pemazmur mengeluh karena para musuh yang kuat telah mengejar (ay. 7) dan memasang jebakan bagi dirinya (ay 4b) serta tidak ada orang yang peduli akan keadaan dirinya (5), akibatnya pemazmur merasa lemah lesu (4a, 7).

Maka pemazmur menaikkan seru doa permohonan kepada Tuhan agar bersegera menolong dirinya (2-3, 6-8) supaya ia dapat bersukacita lagi di tengah-tengah orang benar.

Pemazmur yakin bahwa hanya Tuhan yang bisa menolongnya dan melindungi dirinya dari semua musuh tersebut (6).

Penerapan:

Realitas menunjukkan bahwa ketika seseorang sedang menderita banyak orang tidak peduli, bahkan kadang sesama anak Tuhan pun tidak peka. Syukur pada Tuhan, Tuhan peduli.

Berserulah pada Tuhan saat penderitaan menekan diri kita dan percaya bahwa Dia peduli serta mau dan sanggup menolong kita.

Karena meragukan Tuhan peduli atau berkuasa untuk menolong kita. Ingat-ingat masa lalu ketika Tuhan menyatakan kebaikan-Nya atas diri kita. Atas dasar ini, naikkan pernyataan keyakinan dan syukur bahwa Tuhan pasti akan menolong kita pada waktu-Nya.

Apa yang kita doakan ketika menghadapi pencobaan? Daud mengalami pencobaan dari orang-orang fasik yang bermaksud melakukan kejahatan kepadanya. Oleh karena itu, dia berseru memohon agar Tuhan mengawasi mulutnya, sehingga ia tidak mengeluarkan perkataan yang tidak benar, tidak senonoh, dan tidak tepat yang akan membuat situasi menjadi lebih sulit. Mulut yang tidak terkendali dapat mengeluarkan perkataan-perkataan yang membakar, tidak membangun, bahkan menambah kekacauan. Daud juga memohon agar Tuhan menjaga hatinya, supaya dia tidak condong untuk melakukan kejahatan sebagai pembalasan kepada orang-orang jahat, walaupun rasanya wajar jika ia membalas semua perbuatan orang-orang jahat itu setimpal dengan apa yang mereka perbuat pada dirinya. Daud tetap meyakini bahwa Tuhan sanggup untuk menolong dia saat ia menghadapi pencobaan, sehingga ia memilih untuk berlindung kepada Tuhan. Ia tidak membalas, melainkan meyakini bahwa Tuhanlah yang akan membalas perbuatan orang-orang jahat itu.

Saat menghadapi pencobaan, mulut dan hati kita hendaklah dikontrol penuh oleh Tuhan. Mengapa demikian? Karena dari mulut dan hati yang tidak dikontrol Tuhan akan keluar perkataan yang jahat dan yang tidak membangun, sehingga tidak menjadi suatu kesaksian hidup yang baik. Ingatlah bahwa buah Roh mencakup adanya kasih dan penguasaan diri, dan membalas kejahatan dengan kejahatan bukanlah kehendak Tuhan. Serahkanlah kepada Tuhan semua kekuatiran kita di saat kita menghadapi pencobaan. Biarlah doa kita tetap menjadi seperti sebuah persembahan ukupan di hadapan Tuhan! [

Mazmur ini dinyanyikan, di tulis oleh Daud di sebuah gua. Ada dua Mazmur yang di tulis di dalam gua, yaitu Mazmur 3 dan Mazmur 142 , ada satu lagi Mazmur 57. Di dalam Mazmur 3, Daud di kejar-kejar oleh anaknya sendiri. Di dalam Mazmur 142 ini ketika Daud di kejar oleh Saul.

Nah, saudara-saudara, kehidupan dari Daud itu sangat beraneka ragam. Dia pernah senang, dia pernah susah, dia pernah dikejar, dia pernah mendapat kemuliaan, dia diolok, dia dihina, macam-macam, tidak jauh berbeda dengan pengalaman hidup kita.

Nah, saya ingin memperkenalkan kepada saudara, pengalaman Daud dari basic, ke tempat kemenangan. Dari kehancuran dari keputusasaan kepada pengharapan yang tidak pernah menyerah.

Rabu, 25 Agustus 2010

WANITA PILIHAN TUHAN

Ayat Pokok: Rut 4:15

Oleh : Ayat Mas “Dan dialah yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih; sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki.”

Rut 4:15

 

Seiring dengan perkembangan emansipasi wanita, tuntutan persamaan hak antara pria dan wanita semakin nyata. Cukup banyak wanita yang sekarang menduduki posisi-posisi strategis baik dalam pemerintahan maupun di dunia bisnis. Hal yang jarang sekali terjadi pada jaman dahulu. Tuhan memang tidak membeda-bedakan antara pria dan wanita. Ada beberapa tokoh wanita dalam Alkitab yang memang dipakai luar biasa oleh Tuhan. Saat ini bagi seorang wanita, untuk menjadi seorang pemimpin bukanlah suatu hal yang sulit dilakukan. Tetapi untuk menjadi seorang wanita pilihan di hadapan Tuhan juga bukanlah sesuatu hal yang mudah. Mari kita coba belajar dari kehidupan Rut, perempuan dari Moab yang menjadi menantu Naomi. Ketika keadaan berubah seketika, suami Naomi meninggal, demikian juga anak-anaknya, Rut menunjukkan bagaimana seorang wanita mengambil keputusan yang tepat, sehingga pada akhirnya Rut menjadi seorang wanita pilihan Tuhan.

Berikut dua hal utama dari pribadi Rut:

 1. Kesetiaan

 “Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!” “ Rut 1:16-17 

Ketika suami Naomi maupun anak-anaknya, suami dari Rut juga, meninggal, Naomi menyuruh Rut untuk pulang ke rumahnya. Tetapi Rut mengambil keputusan tetap setia mengikuti Naomi kemanapun dia pergi. Bahkan Rut akan setia hingga maut memisahkan.

Kesetiaan dalam hubungan keluarga menjadi suatu hal yang sulit dijalankan, ketika suatu masalah datang. Ketika keadaan berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa kita harapkan. Ataupun jika diperhadapkan kepada suatu pilihan seperti yang dialami oleh Rut. Banyak hubungan rumah tangga, hubungan suami-istri maupun hubungan antara mertua dan menantu yang tidak dapat diselamatkan oleh karena tidak adanya kesetiaan di dalamnya.

Rut dapat menunjukkan bahwa dia dapat tetap setia, bahkan siap menanggung segala resikonya apapun yang terjadi. Dia mengerti bahwa ketika dia berkomitmen membina hubungan keluarga, dia harus tetap setia sampai maut memisahkannya. Masalah boleh datang, tetapi biarlah sebagai seorang wanita yang mengenal Tuhan kita tetap memelihara kesetiaan dalam hubungan rumah tangga ataupun keluarga kita.

 2.Ketaatan

  “Lalu kata Rut kepadanya: “Segala yang engkau katakan itu akan kulakukan.”” Rut 3:5

Rut menghormati dan menaati segala yang dikatakan oleh Naomi kepadanya. Dia juga melakukannya dengan segenap hati tanpa keraguan sedikitpun.

Dalam kitab Rut kita dapat melihat bahwa Rut merupakan seorang wanita yang giat bekerja. Hasil pekerjaannya maupun kebaikannya bahkan diketahui oleh banyak orang.

Ketaatan yang dilakukan Rut membuahkan hasil. Pada akhirnya Tuhan memberkati Rut dengan caraNya sendiri.

Ketaatan pasti mendatangkan berkat. Ketaatan di dalam hubungan rumah tangga maupun keluarga juga akan membawa perubahan yang baik.

Kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh seorang wantia janganlah menjadi penghalang untuk menjalankan ketaatan. Ketaatan istri terhadap suami merupakan cerminan bahwa wanita tersebut taat kepada Allah. Ketaatan bukanlah sesuatu hal yang dapat ditawar-tawar. Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa suami adalah kepala dalam sebuah keluarga. Dengan menjalankan ketaatan dalam hubungan keluarga, kita akan melihat jalan keluar yang Tuhan berikan dalam setiap masalah-masalah kita. Tuhan tidak pernah berhutang bagi setiap orang yang taat kepadaNya.

Pada akhir kitab Rut diceritakan bahwa pada akhirnya Rut dinikahi oleh Boas. Dan mereka melahirkan seorang anak yang diberi nama Obed. Obed adalah orang tua dari Isai, ayahnya Daud (raja Israel). Tuhan tidak melihat latar belakang Rut sebagai perempuan Moab, tetapi Tuhan melihat kesetiaan dan ketaatannya.

Ketaatan dan kesetiaan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan bagi seorang wanita yang menjadi pilihan Tuhan.

“Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.” Ams 31:30

 

 

Kamis, 19 Agustus 2010

KEMERDEKAAN KRISTEN

PENDAHULUAN

Roma 8 adalah " Deklarasi Kemerdekaan" Kristen. Rasul Paulus mengemukakan empat kemerdekaan Rohani yang kita nikmati karena penyatuan kita dengan Tuhan yaitu:

Oleh; Pdp. H. Agus Susanto

PENDAHULUAN

Roma 8 adalah " Deklarasi Kemerdekaan" Kristen. Rasul Paulus mengemukakan empat kemerdekaan Rohani yang kita nikmati karena penyatuan kita dengan Tuhan yaitu:

1. Kemerdekaan Dari Penghakiman - Tidak Ada Penghukuman ( Roma 8:1-4 )

Roma 8:20 menunjukkan " Sebab " penghukuman tetapi Roma 8:1 memberikan " Sebab" tidak adanya penghukuman. Dasar untuk jaminan ini adalah ungkapan " ada didalam Kristus ". Karena didalam Kristus tidak ada penghukuman. Didalam Roh Kudus kita memiliki hidup dan kemerdekaan. ( Roma 8:2)

2. Kemerdekaan Dari Kekalahan - Tidak Ada Hutang ( Roma 8:5-7 )

Tidak ada hutang kepada tabiat yang lama ( Roma 8:12 ).

Orang percaya dapat hidup dalam kemenangan dan tidak perlu kalah, karena kita dapat menyerahkan seutuhnya kepada Roh yang menjadikan kita anak anak Allah yang akan terus memperkaya kita dan membimbing kita ke dalam kehendak Allah.

3. Kemerdekaan Dari Putus Asa - Tidak Ada Kekecewaan ( Roma 8:18-30 ).

Orang percaya tidak perlu menjadi lemah pada masa-masa penderitaan dan pencobaan karena kita tahu bahwa Allah turut bekerja ( Roma 8:28 ) dan bahwa Ia mempunyai rencana yang sempurna ( Roma 8:29 ). Ia mempunyai dua tujuan dalam rencana itu yaitu untuk " kebaikan kita dan untuk kemuliaan-Nya. Penderitaann kita sekarang ini hanya menjamin kemuliaan yang jauh lebih besar pada waktu Yesus kembali.

4. Kemerdekaan Dari Rasa Takut - Tidak Ada Pemisahan ( Roma 8:31-39 ) .

Tidak ada lagi pemisahan karena kita mengalami kasih Allah ( Roma 8:31-39 ). Kita tidak perlu lagi takut

akan masa lampau, masa sekarang ataupun masa yang akan datang Tidak ada pemisahan antara orang

orang percaya dengan Tuhan. Allah dipihak kita ( Roma 8;32 ). Kristus mati bagi kita ( Roma 8:32 ).

Kristus menjadi pengantara kita ( Roma 8:34 ) dan Yesus mengasihi kita ( Roma 8:35-39).

Tidak adalagi penghukuman, tidak ada lagi hutang,tidak ada lagi putus asa, dan tidak ada lagi pemisahan.

Kita sudah merdeka

Jumat, 13 Agustus 2010

KEMERDEKAAN YANG SEJATI

Nats Alkitab : Galatia 5:1 Oleh : Pdp. H. Agus Susanto Galatia 5:1 “ Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” PENDAHULUAN Selama 350 tahun bangsa Indonesia dijajah oleh bangsa Belanda. Pada tanggal 17 Agustus 1945 maka di deklarasikan kemerdekaan bangsa Indonesia lewat pidato Presiden pertama, yaitu Ir. Soekarno. Saat itulah bangsa Indonesia mengalami kemerdekaan. Kemerdekaan adalah saat di mana sebuah Negara meraih hak kendali penuh atas seluruh wilayah bagian negaranya. Dan saat di mana seseorang mendapatkan hak untuk mengendalikan dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain dan atau tidak bergantung pada orang lain (kebebasan). Dan sekarang kita memperingati HUT kemerdekaan RI yang ke-65. Itulah gambaran kehidupan orang percaya, pada waktu kita percaya kepada nama Tuhan Yesus, masih terlalu banyak pola kehidupan kita terus terjajah. Sehingga firman Tuhan membuka jalan supaya kita sungguh-sungguh mengalami kemerdekaan. Jika masih ada yang belum sungguh-sungguh, Tuhan mau kita semua mengalami kemerdekaan itu. Bukan lagi dijajah oleh kuasa iblis, dijajah oleh karakter-karakter yang jelek, dan nafsu-nafsu jahat. Dan Tuhan mau kita mengalami benar-benar kemerdekaan sejati, karena Dia segera datang untuk menjemput kita. Apa yang harus kita lakukan? a. Berdiri Teguh Galatia 5:1a: "Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh…" Waktu saya baca dan dengar ayat ini, saya ingat ada ayat di mana ini merupakan gambaran dua macam orang Kristen yang terdapat di dalam Matius 7:24-27, "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." Di dalam Yakobus 1:25, mengatakan: "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya". b. Jangan Mau Dijajah Lagi Galatia 5:1b, "…dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan". Saya mengutip dari ayat ini "jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan" menjadi "jangan mau dijajah lagi" supaya jangan mau lagi diperhambakan oleh dunia. Iblis punya target utama dan tujuan utama untuk kita yaitu supaya kita jatuh ke dalam dosa. Sehingga firman Tuhan katakan iblis seperti singa yang mengaum-ngaum. Ia berkeliling sepanjang hari (24 Jam) untuk mencari celah/lengah, bila ada celah segera masuk membuat porak-poranda. Saya ingatkan supaya hari-hari ini lebih waspada, jangan beri sedikit pun peluang. Sebab segala macam cara/pola ada hipno terapi, hipno marketing dll. Orang percaya hidup bukan kuat gagah kita, tetapi karena Roh Kudus yang memampukan di dalam menghadapi segala masalah.

ABIGAIL:POTRET WANITA YANG BIJAKSANA

Ayat Pokok: 1 Sam 25:
Oleh: Pdp. Eliawati Winarsih

Pendahuluan:

Abigail adalah seorang wanita yang bersahaja, seorang wanita yang kemungkinan sekali berasal dari keluarga yang tidak punya, itu sebabnya dia harus menikah dengan seorang pria kaya namun bertabiat atau berperangai buruk, namanya adalah Nabal.

Abigail membuktikan dirinya sebagai seorang yang bijak dalam suatu peristiwa yang sangat-sangat krusial. I Samuel 25 mencatat sekurang-kurangnya ada 3 tindakan Abigail yang mewakili karakteristik orang yang bijak atau dalam kasus ini wanita yang bijak.

 a. Abigail berpikir sebelum bertindak

b. Dia adalah seorang yang objektif. Pasal 25 Abigail berkata : "Aku sajalah ya tuanku yang menanggung kesalahan itu, izinkanlah hambamu ini berbicara kepadamu dan dengarkanlah perkataan hambamu ini. Janganlah kiranya tuanku mengindahkan Nabal orang yang dursila itu, sebab seperti namanya demikianlah ia Nabal namanya dan bebal orangnya. Tapi aku hambamu ini tidak melihat orang-orang yang tuanku suruh." Dengan kata lain dia adalah orang yang objektif, dia mengakui bahwa suaminya itu memang orang yang bebal, jadi dengan kata lain yang salah adalah salah buat dia, yang benar adalah benar. Abigail mengerti bahwa situasi saat itu sangat kritis, dia harus bertindak dan dia pikirkan masak-masak apa yang dia harus lakukan: • Dia tahu dia harus berhubungan dengan Daud untuk minta maaf • Dia tahu dia harus jujur kepada suaminya, maka waktu dia pulang, keesokan harinya dia beritahukan suaminya akan tindakannya itu. Ini juga yang harus kita miliki sebagai seorang istri atau pun suami yaitu sifat objektif, yang salah tetap salah, yang benar tetap benar, jangan kita langsung berkata ini suamiku, ini istriku salah benar pokoknya pasti benar dan saya akan bela, tidak. Yang salah tetap salah, yang benar tetap benar kita harus berdiri di atas rel kebenaran bukan di atas rel dia adalah suamiku atau istriku. Penting dalam hubungan suami-istri ada yang bisa dan sebaiknya dua-duanya bisa berfungsi sebagai pengawas, sebagai penegur, sehingga hubungan suami-istri bisa bertambah kuat, bisa menjadi lebih dewasa.

c. Abigail mengarahkan orang kepada Tuhan, seperti yang dikatakannya kepada Daud sewaktu dia menghadap Daud. "Oleh sebab itu tuanku demi Tuhan yang hidup dan demi hidupmu yang dicegah Tuhan dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan. Ampunilah keceroboan hambamu ini, sebab pastilah Tuhan akan membangun bagi tuanku keturunan yang teguh karena tuanku ini melakukan peran Tuhan dan tidak ada yang jahat terdapat padamu selama hidupmu." Dari sini kita bisa melihat Abigail menggunakan kata Tuhan dengan kata lain dia mencoba mengingatkan Daud untuk tidak berdosa, untuk tidak berbuat jahat, untuk tidak mencari keadilan dengan caranya sendiri. Saya kira ini adalah potret wanita bijak yang kita juga harus miliki sekarang. Istri yang membawa, mendorong anggota keluarganya serta suaminya untuk melihat kepada Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, bagi seorang istri yang hidup berdampingan dengan suami yang tidak seiman tetap ada yang harus dilakukannya untuk mengarahkannya kepada Tuhan. • Mengarahkan suami atau keluarganya kepada Tuhan melalui perbuatannya. Seperti yang dinasihatkan dalam 1Petrus 3:1. Perbuatan yang saleh, perbuatan yang sungguh mencerminkan kasih Kristus di dalam kehidupannya. Dengan cara itu si suami akan melihat bahwa istrinya berbeda dari wanita lain. Dan apa yang membuat istrinya berbeda karena dia adalah orang yang sudah ditebus oleh Tuhan Yesus dan hidup sesuai dengan perintah Tuhan.